Apabila idealisme dan
pragmatisme dapat dijadikan sebagai sebuah kontinum, mungkin keduanya berada
pada kutub yang berlawanan. Idealisme berusaha membuat segala sesuatu pada
kondisi yang paling sempurna yang statis dan terprediksi. Sementara
pragmatisme melihat sesuatu selalu berubah dan tumbuh, dimana yang terpenting
adalah kebermanfaatan praktis bagi manusia. Idealisme melihat dunia dalam hitam
dan putih, dan tentunya berusaha mengarahkan semua perilaku pada area putih.
Pragmatisme memiliki
daerah abu-abu yang bahkan lebih luas dari hitam dan putih
jika digabungkan.
Idealisme umumnya tumbuh dari
kalangan akademis. Mereka adalah kalangan yang tercerahkan dan kritis terhadap
kondisi masyarakat. Ekstraksi sebuah penelitian akan memunculkan solusi atas
permasalahan beserta prediksi keseimbangan dan pencapaian cita-cita. Negeri ini
merdeka karena idealisme pemuda yang menginginkan kemerdekaan atas perjuangan
sendiri, bukan hasil belas kasihan pemberian negara lain.
Pemikiran dan penelitian di kalangan
akademis akan memunculkan kondisi-kondisi indah yang diharapkan oleh masyarakat. Kondisi dan situasi tersebut dapat terwujud dengan perilaku dan
persyaratan lainnya. Berbagai varibel persyaratan untuk mewujudkan kondisi
ideal dirumuskan dan disebarluaskan sebagai sebuah teori ilmiah.
Disisi lain, dunia nyata tidak
seindah teori yang didengungkan. Pada kenyataannya tidak semua variable di
dunia nyata dapat teridentifikasi apalagi dikontrol, seperti dalam eksperimen
laboratorium. Variabel perilaku manusia, apalagi masyarakat, sama sekali
berbeda dan tidak ada generalisasi yang paling mumpuni. Mau tidak mau, semua
permasalahan yang terjadi harus dikerjakan secara praktis dengan peralatan yang
ada dan tersedia di dunia riil.
Mobil listrik dan kendaraan hybrid
lainnya merupakan produk ilmiah yang memiliki idealisme tinggi untuk
mengurangai bahan bakar fosil. Namun proyek tersebut masih lemah dalam sisi
praktisnya. Sebuah alat penghemat bahan bakar minyak memiliki sisi praktis yang
cukup tinggi, namun idealisme menggunakan energi terbarukan pun sedikit
terpinggirkan.
Sebagai mahasiswa, mana yang akan
dipilih? Menjunjung tinggi idealisme namun ada kemungkinan kelaparan, atau
berpihak pada pragmatisme namun rentan terhadap benturan hukum dan norma? Kita
memiliki pilihan yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar