Kamis, 15 Januari 2015

IDEALISME Vs. PRAGMATISME. PILIH YANG MANA?

Apabila idealisme dan pragmatisme dapat dijadikan sebagai sebuah kontinum, mungkin keduanya berada pada kutub yang berlawanan. Idealisme berusaha membuat segala sesuatu pada kondisi yang paling  sempurna yang statis dan terprediksi. Sementara pragmatisme melihat sesuatu selalu berubah dan tumbuh, dimana yang terpenting adalah kebermanfaatan praktis bagi manusia. Idealisme melihat dunia dalam hitam dan putih, dan tentunya berusaha mengarahkan semua perilaku pada area putih. Pragmatisme memiliki
daerah abu-abu yang bahkan lebih luas dari hitam dan putih jika digabungkan.

Idealisme umumnya tumbuh dari kalangan akademis. Mereka adalah kalangan yang tercerahkan dan kritis terhadap kondisi masyarakat. Ekstraksi sebuah penelitian akan memunculkan solusi atas permasalahan beserta prediksi keseimbangan dan pencapaian cita-cita. Negeri ini merdeka karena idealisme pemuda yang menginginkan kemerdekaan atas perjuangan sendiri, bukan hasil belas kasihan pemberian negara lain.

Pemikiran dan penelitian di kalangan akademis akan memunculkan kondisi-kondisi indah yang diharapkan oleh masyarakat. Kondisi dan situasi tersebut dapat terwujud dengan perilaku dan persyaratan lainnya. Berbagai varibel persyaratan untuk mewujudkan kondisi ideal dirumuskan dan disebarluaskan sebagai sebuah teori ilmiah.

Disisi lain, dunia nyata tidak seindah teori yang didengungkan. Pada kenyataannya tidak semua variable di dunia nyata dapat teridentifikasi apalagi dikontrol, seperti dalam eksperimen laboratorium. Variabel perilaku manusia, apalagi masyarakat, sama sekali berbeda dan tidak ada generalisasi yang paling mumpuni. Mau tidak mau, semua permasalahan yang terjadi harus dikerjakan secara praktis dengan peralatan yang ada dan tersedia di dunia riil.

Mobil listrik dan kendaraan hybrid lainnya merupakan produk ilmiah yang memiliki idealisme tinggi untuk mengurangai bahan bakar fosil. Namun proyek tersebut masih lemah dalam sisi praktisnya. Sebuah alat penghemat bahan bakar minyak memiliki sisi praktis yang cukup tinggi, namun idealisme menggunakan energi terbarukan pun sedikit terpinggirkan.
Sebagai mahasiswa, mana yang akan dipilih? Menjunjung tinggi idealisme namun ada kemungkinan kelaparan, atau berpihak pada pragmatisme namun rentan terhadap benturan hukum dan norma? Kita memiliki pilihan yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar