Mahasiswa, kritis dan idealisme, tiga kata yang
erat dan tidak bisa dipisahkan. Menjadi mahasiswa tentunya tak lengkap rasanya
kalau tidak mempunyai satu sifat naluri idealisme, idealisme muncul seiring
dengan kedewasaan mahasiswa itu sendiri, ditunjang dengan lingkungan kampus
yang menjadikan mahasiswa mempunyai pendirian teguh di kala benar dan salah.
Pendirian yang tidak tergoyahkan dan tidak mau mengalah satu sama lainnya
itulah ciri idealisme mahasiswa jaman sekarang. Tidak pernah menilik
letak kesalahan dan kebenaran yang ada, tetapi hanya melihat satu sisi
pandangan yang menurut mereka benar dan cocok untuk dirinya dan komunitasnya
saja.
Hanya bermain dan berpikir
untuk menang saja untuk kalangan atau kelompok nya sendiri dan jarang sekali
ditemui orang-orang idealis akan mau bertukar pikiran satu sama lainnya. Yang
mereka pegang hanya pedoman dari pendirian diri sendirnya saja, tanpa mereka
mau menerima masukan dari orang lain bahkan sahabat dan teman karibnya sendiri.
Keteguhan dan kepercayaan diri sendiri seolah mengalahkan kebenaran yang ada
dan mulai menindas hal-hal yang berbau benar, sebaliknya kesalahan yang ada
malah di per benarkan sebagai jalan keluar. Potret idealisme mahasiswa jaman
sekarang bisa kita jumpai di semua kampus manapun karena memang naluri
mahasiswa adalah mempunyai sifat idealisme seperti ini. Dengan background
jurusan apapun penulis yakin mereka mempunyai idealisme dan karakter
masing-masing. Malah aneh saja kalau ada mahasiswa yang tidak mempunyai sifat
alamiah ini, status mahasiswanya akan dipertanyakan apakah masih berpikiran
seperti anak sekolahan lagi atau sudah bisa berpikiran dewasa dan bisa
mengambil suatu keputusan sendiri seperti layaknya seorang mahasiswa.
Tetapi satu catatan tebal
disini mahasiswa dengan idealisme yang dimaksud bukanlah mahasiswa yang
mempunyai idealisme ngawur dan menerobos nilai-nilai kehidupan yang ada. Tidak
dibenarkan sekali untuk idealisme yang seperti ini, dengan menganggap yang
benar menjadi benar dan yang salah menjadi benar. Dengan seperti itu maka tidak
akan ada lagi kebenaran yang sesungguhnya karena kedua belah pihak menganggap
dirinya paling benar sendiri satu sama lainnya. Dan apa yang terjadi , anda
bisa memikirkannya sendiri..!!!
Kongsi- kongsi
Idealisme yang di
salahgunakan seperti itu marak sekali terjadi di beberapa kampus di Indonesia,
alih-alih memperjuangkan aspirasi yang ada ternyata di balik itu semua ada
kongsi-kongsi dan ada kepentingan besar dalam berjalannya proses perjuangan
itu. Dengan kekuasaan , kepentingan dan uang seolah telah menyetir pikiran
mahasiswa era sekarang. Tidak ada lagi rasionalisasi di otak mereka yang bisa
memilah mana yang benar dan mana yang salah untuk diperjuangkan. Berbeda jauh
dengan aksi mahasiswa idealis jaman dulu, bukan berarti membanding-bandingkan
potret mahasiswa jaman sekarang dan jaman dahulu, tetapi keduanya mempunyai
tujuan yang berbeda dalam hal pemikiran dan perjungan yang dilakukan.
Mahasiswa jaman sekarang
hanya memikirkan 3 K yaitu kekuasaan , kepentingan dan keuangan / uang. Tiga
pilar tersebut seolah telah membutakan pikiran dan arah perjuangan mahasiswa
untuk memperjuangkan hal-hal yang patut untuk diperjuangkan . Berbeda dengan
mahasiswa jaman dahulu seperti angkatan 80 an sampai era 90 an dimana
transformasi perjuangan mahasiswa disini dilakukan untuk tujuan yang jelas
tanpa ada embel-embel apapun. Idealisme yang mereka bawa pada saat itu
mempunyai satu tujuan yang sama yaitu keadilan, kebebasan dan kemakmuran yang
lebih baik. Tidak ada kata lain selain tiga hal tersebut yang diperjuangkan.
Sampai pada titik nadir perjuangan pergerakan mahasiswa ini lahirlah kata-kata
DEMOKRASI yang merupakan cikal bakal kebebasan dalam tanda kutip kebebasan yang
bertanggung jawab. Idealisme mahasiswa kala itu adalah idealisme yang benar dan
bertanggung jawab dalam kaca mata kebenaran tujuan dan arah pergerakan
mahasiswa.
Idealisme era sekarang dan
dulu sudah tidak sama lagi dalam konteks perjuangan dan pergerakan mahasiswa
dalam berpikir dan ber tingkah laku, terjadi pergeseran amat jauh dari beberapa
segi kehidupan yang ada, mulai dari kebebasan yang tak bertanggung jawab sampai
pada masuk ke ranah hal-hal yang terlewat batas norma perilaku kehidupan
sehari-hari. Tidak dalam posisi salah ataupun dalam posisi benar, semua akan
menghasilkan output yang sama, jadi kesimpulannya tidak ada sinkronisasi yang
sama antara pikiran dan tingkah laku yang ada.
Sebagai penutup, penulis
akan memberikan satu gambaran idealisme yang benar untuk mahasiwa yaitu masih
mengganggap sesuatu salah itu salah dan tetap memperjuangkan hal yang benar itu
benar. Tanpa ada unsur yang membebani anda-anda semua dalam meperjuangkan
keadilan, kebebasan dan kemakmuran untuk diri anda sendri, organisasi dan ruang
lingkup yang luas yaitu bangsa dan negara kita. Semoga tulisan ini bisa
menjadi inspirasi bagi teman- teman dan kalangan mahasiswa, jangan sampai
idealisme yang berkepentingan membudaya ditubuh mahasiswa sehingga mahasiswa
kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar