Kamis, 15 Januari 2015

KONSEP ULUL ALBAB SEBAGAI ORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM MASA DEPAN

Oleh : Khoirul Anam Maskur (Direktur CENTER OF TRANSFORMATION)
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan sejatinya merupakan proses sosial yang bertujuan untuk mengembangkan potensi hid“`up manusia baik secara individual maupun secara sosial. Sebab dengan pendidikanlah manusia dapat memerankan hidupnya sebagai makhluk yang paling mulia di dunia ini. Karena itu pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berlangsung seumur hidup.
Sebagai kebutuhan pokok (primer) manusia, pendidikan itu sendiri sarat dengan nilai-nilai yang bersifat fundamental, seperti nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral dan nilai agama. Oleh sebab itu nilai yang dimiliki oleh pendidikan, orang akan berkeyakinan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat menumbuhkan informmasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan dunia serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial dan substantial dalam menghadapi perubahan.
Lebih lanjut jika melihat kondisi umat Islam sekarang secara kualitatif terlihat sedang mengalami kemunduran peradaban. Di saat umat-umat lain yang banyak dipengaruhi oleh pengaruh kapitalisme yang mendominankan materialistis, konfusionisme dan sebagainya itu, nampak lebih maju. Sementara umat Islam sendiri malah berada pada posisi keterbelakangan peradaban. Hal semacam ini penting untuk kita analisa secara kritis mengapa hal itu bisa terjadi.
Secara esensial, Islam sebenarnya tidak memberikan resep, tetapi Islam banyak memberikan petunjuk, memberikan aspirasi dan etika. Di samping itu juga, Islam memberikan tuntutan yang bersifat etik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Namun muatan komprehensif dalam agama itu belum mampu merubah nasib umat muslim sendiri dikarenakan lemahnya etos keilmuan umat Islam. Ini yang membuat aksentuasi pendidikan pada wawasan normatif-teoritik nampaknya belum mampu menjadi tumpuan harapan umat dalam pergumulan kemajuan sosial budaya. Sedangkan aspek rasional-fungsionalistik, nampaknya belum digarap secara maksimal, padahal tuntutan global masa depan banyak
tergantung pada aspek ini. Tantangan global masa depan yang diwarnai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengharuskan kita untuk. memfungsionalsasikan rasionalitas kita secara maksimal untuk mengkaji world-view Al Qur’an secara komprehensif.
Mencoba secara kontinuitas merupakan solusi paradigmatik dalam menangkal keprihatinan melelmpemnya pendidikan Islam. Sebagai langkah adaptatif, maka konseptualisasi pendidikan Islam itu harus diaksentuasikan pada aspek keuniversalan manusia dan ilmu pengetahuan yang kemudian berikhtiar mewujudkan manusia yang “kaffah” atau sempurna. Artinya sebagai lembaga alternatif, pendidikan Islam hendaknya mampu menampilkan paradigma yang berwawasan universal atau ‘dengan ungkapan lain yang berwawasan semesta. Sehingga kita tidak lagi memandang ilmu pengetahuan itu secara parsial ansich akan tetapi kita akan memandangnya sebagai hal yang universal-integral. Dengan demikian, pendidikan Islam tak lagi tampil dengan pengendapan atau mementingkan aspek vertikal (normatif) tetapi justru mampu memadukannya dengan aspek horizontalnya.
Dengan demikian, gagasan pendidikan Islam seharusnya mampu merefleksikan manusia universal tersebut sebagai sumberdaya insaniah yang berkualitas dan yang banyak mengambil peran dalam kehidupan sehari hari.
Untuk itu, tantangan global masa depan umat Islam ke depan seharusnya dihadapi dengan menguras semaksimal mungkin warisan kreatif Tuhan kepada umat manusia. Kondisi ini, semestinya kita secara kontinuitas selalu mengadakan pembenahan secara inovatif yang dijiwai oleh etika dan jiwa serta semangat Islam.. Maka peran pendidikan Islam menjadi kian vital dalam menghadapi percaturan global yang semakin kompetitif Ini merupakan wujud manifesto riil pendidikan Islam dalam membawa pesan pesan edukatif dan spiritual Islam ke semua umat manusia.
Maka dengan demikian, pendidikan secara umum dan khususnya pendidikan Islam seharusnya mampu menghasilkan output bahkan outcome manusia universal sebagai sumberdaya insaniah yang berkualitas yang mampu mengemban misi rahmatan li al-Alamin dan mempunyai kesadaran transendental. Karakteristik cendekiawan muslim yang dianggap kompeten membangun masyarakat yang berperadaban tersebut dalam al-Qur’an disebut sebagai Ulul Albab. Menurut Dawam Rahardjo, kata yang paling tepat untuk dirujuk dalam konteks makna dan tugas cendekiawan muslim dewasa ini adalah Ulul Albab, sebab dalam kata Ulul Albab itulah kombinasi antara ulama dan pemikir itu terlihat dengan jelas. Kata Ulul Albab merupakan sebuah konsep yang penting dalam al-Qur’an berkaitan dengan hakikat sosial keberagamaan Islam. Kata ini disebutkan sebanyak enam belas kali di dalam al-Qur’an. Ulul Albab inilah yang nantinya menjadi sebuah tawaran outputsekaligus outcome pendidikan, mengingat kegagalan-kegagalan pendidikan yang telah disebutkan di atas.
Ulul Albab sementara ini dipahami sebagai seorang muslim yang beriman, memiliki wawasan keilmuan, mengamalkan ilmunya dan memperjuangkan gagasan-gagasannya sampai terwujud suatu tata sosial yang diridloi Allah Swt. Secara sekilas, karakter Ulul Albab ini dapat dipahami melalui ayat-ayat al-Qur’an, antara lain QS. ali ‘Imron (3) ayat 190-191. Wawasan keilmuan yang dimaksud di sini sudah barang tentu yang Islami dan yang harus dicari secara berkesinambungan sambil diamalkan dan diperjuangkan, sehingga secara keseluruhan memiliki kesadaran sami’na wa ata‘na kepada Allah Swt. dalam proses tugas kecendekiawanannya. Dengan demikian, target ideal yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang mempunyai kesiapan untuk mencapai karakteristik Ulul Albab seperti yang dimaksud. Output dan outcome pendidikan seperti inilah yang merupakan arah yang harus dituju agar kelak mampu mewujudkan peradaban Islam alternatif.
Apabila dicermati gambaran output dan outcome pendidikan yang ditawarkan oleh al-Qur’an yang diharapkan mampu memunculkan peradaban Islam alternatif tersebut, selaras dengan apa yang telah dicanangkan oleh UNESCO tentang enam pilar pendidikan yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk mengerjakan), learning to be(belajar untuk menjadi), learning to live together (belajar untuk bisa hidup bersama dalam masyarakat), learning how to learn (belajar bagaimana belajar) dan learning throghout life (belajar sepanjang kehidupan). Menurut UNESCO, keluaran dari proses pendidikan merupakan pribadi utuh dengan keunggulan secara berimbang dalam aspek spiritual, sosial, intelektual, emosional dan fisikal. Di samping itu, juga pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan hidup secara seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat, antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bersama (sosial).
Akan tetapi, apabila ditelusuri secara teliti, realitas yang ada bahwa kiprah Ulul Albab (cendekiawan muslim) dewasa ini di berbagai belahan dunia, ideal cendekiawan tersebut baru terwujud dalam jumlah yang sangat kecil, tidak sebanding dengan jumlah umat dan lembaga pendidikan Islam yang ada. Biasanya mereka yang segelintir tersebut, memiliki keprihatinan yang mendalam mengenai keadaan umat yang semakin tidak menentu ini. Pernyataan terakhir merupakan pembeda utama eksistensi cendekiawan muslim dengan cendekiawan di luar mereka, yang cenderung meninggalkan umat karena menjadi pengabsah agung terhadap politik tertentu, berakrab-akrab dengan budaya barat sampai lebur identitas kemuslimannya.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Ulul Albab merupakan sebuah tawaran output sekaligus outcome ideal yang harus dicapai oleh pendidikan Islam. Namun kenyataannya, semakin hari umat Islam semakin tertinggal jauh dari tuntutan zaman. Dengan kata lain, pendidikan belum berhasil menciptakan output dengan karakteristik Ulul Albab, ulama` dan pemikir, karena kurang adanya kejelasan orientasi pendidikan. Penyebab lain yaitu keluaran pendidikan dipahami hanya sebagai output, tidak sampai menyentuh wilayah outcome pendidikan; padahal, tantangan pendidikan Islam di era post-modern ini sangatlah berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar